A. Sejarah Berdirinya Nagari Ulakan
Pada abad ke XII M (Urang Tuo Nan Barampek) orang tua berempat turun dari Darek merintis Nagari (malaco pintalak) membuka ladang, yaitu: suku Panyalai (Caniago) dan Suku Koto. Kedua suku inilah yang menjadi suku asal yang memiliki peranan khusus di Ulakan, namun perkembangan empat suku lain membuat belahan datang kemudian yaitu ; suku Sikumbang datang mengisi adat pada suku Koto dan suku Tanjung mengisi adat pada suku Jambak yang dahulu malakok mengisi adat ke suku Koto kemudian belakangan datang suku Guci membelah ke suku Panyalai (Chaniago).
Menurut penuturan pemuka adat dan tokoh masyarakat dan data arsip yang ada di Belanda bahwa nagari Ulakan dikenal sejak kehadiran Syekh Buhanuddin pada Abad ke 12 Hijriyah atau abad ke 17 Masehi. Kehadiran Syekh Burhanuddin menjadi pusat perhatian karena dialah orang pertama yang mendirikan sekolah berbentuk pesantren di pulau perca Pantai Sumatera yang kala itu masih berbentuk surau sebagai pusat pendidikan islam dan kajian agama islam di Minangkabau. Bersama dengan empat sahabatnya yaitu Datuk Maruhun Panjang, dari Padang Gantiang, si Tarapang dari Kubang Tigo Baleh (Solok), Mohd. Natsir Syekh Surau Baru dari Koto Tangah Padang dan Syekh Buyuang Mudo dari Bayang Pulut-Pulut Pesisir Selatan yang sebelum selesai belajar pada Syeikh Abdur Rauf mereka pulang terlebih dahulu dan mencoba mengembangkan ajaran Islam dikampung halaman masing-masing, namun tidak mendapat sambutan sehingga kembali ke Aceh dan diperintahkan belajar pada Syeikh Burhanuddin di Tanjung Medan Ulakan.
Nama Ulakan sendiri berasal dari kata Ulak atau penolakan untuk empat sahabat Syekh Burhanuddin yang ditolak kembali belajar dengan Syekh Abdur Rauf dan diperintah untuk menjadi murid Syekh Burhanuddin atas perintah Syekh Abdur Rauf sendiri sekaligus membantu Syekh Burhanuddin dalam mengembangkan agama Islam di Ranah Minang. Ulakan merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Ulakan Tapakis, tetapi masih merupakan daerah otonom Kerajaan Adat Rantau Minang Kabau “Bak kata pepatah Luhak ba Panghulu, Rantau Barajo” maka di Ulakan berulayat Niniak Mamak Nan Sapuluah, Sabaleh Jo Bijo Rajo, yang dikatakan Niniak yaitu : Rang Kayo Rajo Amai Said, Rang Kayo Rajo Dihulu, Rang Kayo Rajo Sulaiman, Rang Kayo Rajo Mangkuto, dan Bijo Rajo yang disebut Datuak Tamin Alam, dan yang dikatakan Mamak yaitu: Datuak Malelo Pandak (suku Jambak), Datuak Nan Kodo Sati (suku Panyalai/Caniago), Datuak Jan Batuah (suku Guci/Piliang), Datuak Pripatiah (suku Sikumbang), Datuak Batuwah (Suku Tanjuang), dan Datuak Koto. Kesebelas niniak mamak inilah yang hingga saat ini menjadi tokoh pemangku adat yang ada di Nagari Ulakan, sebagai tokoh tradisional yang mengetahui seluk beluk adat istiadat di Nagari Ulakan, (CK, 2016)
B. Sejarah Pemerintahan Nagari Ulakan
Pada tahun 1983 Pemerintahan Nagari Ulakan menjadi Pemerintahan Nagari yang terdiri dari 19 Desa. Kemudian tahun 1988 19 Desa tersebut digabung menjadi 7 desa yakni: Desa Ulakan Tengah, Desa Setangkai Payung, Desa Padang Toboh, Desa Sungai Gimba, Desa Seulayat, Desa Manggopoh Palak Gadang, Desa Sandi Mulya. Pada tahun 2002 berdasarkan SK Bupati Nomor : 98/KEP/BPP-2002 terbentuklah Pemerintahan Nagari Ulakan yang terdiri dari 19 Korong, yakni:
Pada tahun 2016 berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pembentukan 43 Pemerintahan Nagari, Nagari Ulakan (induk) hanya menyisakan 5 Korong yaitu Korong Kampung Koto, Korong Kabun Bungo Pasang, Korong Padang Pauh, Korong Pasar Ulakan dan Korong Ganting Tangah Padang.
C. Sejarah Kepemimpinan Nagari
Onki Candra Prima |
---|
08 November 2019 21:27:21 Selamat Berjuang. |